Kucari Masjid Itu
Aku mencari masjid itu… Aku masuk ke sebuah masjid. Kulihat orang-orang berbaring malas dan tertidur pulas di lantainya yang berkarpet dan ruangannya yang sejuk. Ini bukan masjid yang kucari. Sebuah masjid lain kusinggahi untuk salat. Seusai salat, banyak orang-orangnya yang tadinya salat berjamaah, mengatur tempat untuk tidur di situ. Ini bukan masjid yang kucari.
Aku menginap beberapa malam di sebuah kota. Ada beberapa masjid di sebuah lorong yang cukup dekat dari tempatku menginap. Setiap subuh, siang, petang, dan malam, kulihat orang-orang bersembahyang di situ. Hanya sembahyang, tidak ada yang lain yang menjadi agenda masjid itu. Aku pikir, ini bukan masjid yang kucari.
Dalam perjalanan musafir dari kota itu, aku singgah untuk salat jamak zuhur-ashar di sebuah masjid yang baru selesai kegiatan salat Jumat. Dalam salat, aku melihat di depanku, dekat mihrab, satu orang menghitung sendirian isi celengan Jumat. Ia masih menghitung uang yang banyak itu saat aku sudah selesai salat dan masih berzikir. Aku berdoa, semoga ia jujur menghitung sumbangan orang. Ini juga bukan masjid yang kucari. Sebuah masjid dibangun beramai-ramai. Aku bertanya, kenapa masjid itu dibangun, bukankah ada masjid yang cukup dekat dari situ? Orang-orang menjawabku; “apakah anda tidak melihat gereja itu?” Seraya menunjuk ke gereja yang sudah lama berdiri di situ, tak jauh dari masjid yang sedang dibangun. Aku termenung sebentar, lalu hatiku berbisik, masjid itu bukan masjid yang kucari…
Aku disentakkan oleh suara dari pembesar suara di menara sebuah masjid. Baguslah kalau suara menara yang meraung-raung itu adalah suara azan. Namun, suara menara itu juga meraung-raung jauh sebelum waktu salat tiba. Bahkan, biasa pula di waktu-waktu orang sedang beristirahat sehabis isya atau pagi-siang saat orang sedang bekerja. Ini bukan masjid yang kucari.
Di pinggir sebuah kota kecil, ada masjid di mana anggota jemaahnya saling tunjuk dan mempersilakan untuk menjadi imam salat. Imam salat magrib beda dengan imam salat isya. Sebentar subuh, lain lagi imamnya. Begitu pula saat salat zuhur dan ashar, masing-masing dipimpin oleh imam berbeda. Masjid yang tidak berimam itu, bukan masjid yang kucari.
Aku mencari masjid yang pada wajah orang-orang yang salat di dalamnya ada rona keimanan dan kesucian hati (QS/48:29). Aku mencari masjid, di mana salat hanya salah satu dari banyak sekali agenda kegiatannya. Aku mencari masjid yang seusai salat, orang-orang bergegas keluar dari situ pergi ke tempat pekerjaan mereka masing-masing. Aku mencari masjid di mana uang yang beredar di dalamnya, proses perhitungannya bukan hanya diketahui oleh malaikat, melainkan juga manusia. Aku mencari masjid yang tidak dibangun di atas hati kebencian dan permusuhan (QS/22:40).
Aku mencari masjid yang dibangun di atas dasar taqwa. “Janganlah kamu bersembahyang dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang dibangun atas dasar taqwa (masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu bersembahyang di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri dan Allah menyukai orang-orang yang bersih; (QS/9:108 dan 2:114). Aku mencari masjid yang memberi maslahah kepada sekitarnya, bukan mudarat, dan sesungguhnya mengutuhkan warga di sekitarnya, bukan memecah belah mereka; (QS/9:107).
-M. Qasim Mathar
(dimuat di surat kabar lokal Sulawesi Selatan, Fajar, 22/05/2012)


